Building A Beginner Mindset: Mt Andong

Tulisan ini cukup lama hanya tersimpan di-draft. Berhubung kejadian di Palu 28 September 2018 jadi tertunda untuk dipublish. Kali ini adalah cerita tentang perjalanan ke Gunung Andong, Jawa Tengah.

-----

Mendengar nama ‘Andong’ pertama kali saya mengira ini adalah transportasi tradisional yang menggunakan kuda sebagai tenaganya, atau kalau dikampung saya biasanya disebut Dokar. Ternyata Andong yang dimaksud teman saya –sebut saja ‘cah lanang’ –adalah nama sebuah gunung yang berdiri ditengah gunung-gunung populer lainnya di Jawa Tengah. Belakangan saya mengerti kenapa nama ini diberikan karena jika dari jauh memang puncak Andong terlihat seperti punggung sapi yang mungkin arti sapi disini adalah Andong.

Ajakan cah lanang untuk mengunjungi kampungnya di Magelang dan travelling ke Andong sebenarnya sudah dari tahun lalu saat kami berbarengan ikut salah satu kegiatan sosial di Jonggol. Oh ya, cah lanang pernah cerita kalau dia tinggal di sebuah daerah di bawah pegunungan Menoreh yang kata mas Dika, founder Agradaya –salah satu social enterprise yang diinkubasi Instellar di-angkatan 4 –bukit Menoreh menyimpan keindahan dan juga potensi alam yang banyak. Rasa penasaran inilah yang membawa saya untuk mengiyakan ajakan teman-teman relawan SAFE 3 Jakarta yang grup nya masih hangat dan ramai karena masih belum bisa move on :p


Memanfaatkan hari kejepit tanggal 10 september, saya kemudian bersama Kaul –partner perjalanan saya kali ini – memulai keberangkatan dari Jakarta menggunakan kereta ekonomi Tawang Jaya, karena harganya yang cukup terjangkau sekitar 140k, walaupun sebenarnya --menurut Kaul, bisa lebih murah kalau di-book lebih awal. Sekitar jam 11 malam kereta perlahan mulai meninggalkan stasiun pasar senen, terlihat dari jendela gemerlap jalanan ibukota dan manusia-manusia yang sedang menikmati malam minggunya. Suara khas yang dihasilkan dari gesekan roda kereta dengan relnya bagaikan irama merdu pengantar tidur. Walaupun malam itu tidak berhasil tidur lelap karena sulit menemukan posisi yang nyaman.

Sesampainya di Semarang, kami langsung menuju sebuah warung soto segar yang lokasinya tidak begitu jauh dari stasiun semarang. Harganya murah dengan porsi yang pas. Setelah sarapan, dan mengecek perlengkapan, kami pun memulai perjalanan Semarang-Magelang via Salatiga. Kurang lebih 3 Jam (termasuk istirahat), kami tiba di sebuah Desa di bawah kaki gunung Andong yang juga menjadi basecamp atau pos pendakian awal pendaki. Disini kami mendaftarkan diri, mengecek kembali perlengkapan dan juga merehatkan tubuh. 

Sekitar pukul 09 malam waktu setempat, kami pun memulai pendakian. Menurut estimasi, biasanya perjalanan ke atas akan memakan waktu kurang lebih 3-4 jam. Ternyata benar, sekitar pukul 11 kami tiba diatas dan langsung mendirikan tenda. Overall, track nya tidak begitu sulit dan juga tidak terlalu mudah, pas untuk pemula. Ada empat sampai lima pos yang bisa dijadikan tempat istirahat dan dengan jarak tidak terlalu jauh. Sebelum puncak juga ada pos yang bisa dijadikan tempat untuk shalat, ada air mengalir yang bisa digunakan untuk berwudhu. 

Sampai diatas kami mencoba mendirikan tenda yang ternyata tidak mudah. Angin yang kencang dan debu yang bertebaran begitu mengganggu. Kali ini saya tidak bohong, debunya banyak banget!!! bagaikan di gurun sahara. Beberapa kali debu itu masuk kemulut meskipun sudah menggunakan penutup mulut berlapis-lapis. Oh iya, bukan cuma debu, tapi juga asap. Asap dari rumput - rumput yang terbakar beberapa meter dari tempat kami mendirikan tenda. Saat itu memang lagi banyak kebakaran lahan di beberapa dataran tinggi terutama daerah Jawa Tengah.

Dengan kondisi debu yang bertebaran dan juga ketakutan api yang terus menyebar, kami bisa tertidur beberapa jam sampai tiba waktu yang dinanti: menikmati sunrise. Untuk ukuran Andong yang tidak begitu berat medannya, keindahan sunrisenya ini tidak kalah dibanding gunung-gunung tetangganya. Dari sini kita bisa liat 3S yang cukup terkenal itu, gunung Slamet, Sindoro dan Sumbing. Kalau beruntung dengan cuaca cerah, ada dua gunung lagi yang bisa dilihat dari sini, yakni gunung Telomoyo dan Prau. Dari sini juga terlihat kota Magelang yang mulai bergeliat di waktu pagi. Setelah mencoba berbagai macam gaya foto, inilah satu hasil ala-ala :



At Andong

Ini juga:



Avatars wanna be

Lesson learned dalam perjalanan kali ini: 
Bahwa kita tidak harus selalu menghindari atau menolak mencoba hal-hal yang kita anggap 'level bawah' dari pencapaian kita. Mungkin saya bisa saja berpikir, ngapain nanjak ke Andong sementara sudah pernah sampai di salah satu gunung tertinggi? But, if we don't try building our beginner mindset atau belajar kembali hal-hal basic, kita tidak akan tahu sudah sampai di posisi mana sebenarnya kita sekarang. Kembali ke basic, that's my take away for this trip.



Thank you buat partner perjalanan kali ini, geng ubur2: kak Ulfa, kak Milo, Cah Lanang a.ka kak Heni, kak Lina, dan kak Elin! sampai ketemu di next pendakian ya! Merbabu, maybe? :)



Komentar

Postingan Populer