Palu Kuat, Palu Bangkit!

Tepat satu bulan yang lalu, 28 September 2018, sebuah kejadian yang mungin tidak akan pernah saya lupakan. Sebuah tragedi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

 ...“ka Ayi, ada gempa..” 
Sore itu, sebuah pesan whatsapp masuk dari adik saya.  Selepas itu, sebuah pesan lagi masuk, kali ini dari seorang teman, “Yi, katanya gempa di Palu 7,8 SR, keluarga lu gimana yi?” –pesan kedua ini yang kemudian membuat jantung saya terasa jatuh bertebaran dimana-mana. Berkecamuk, sedih, marah. Saat itu saya mencoba menghubungi semua nomor telepon saudara dan rekan-rekan saya disana, tapi hasilnya sama: tidak ada satupun nomor mereka yang aktif. Apa yang sebenarnya terjadi disana? Sedahsyat itu kah bencananya?

Pasca Gempa - Tsunami Palu (1)
Tidak lama pertanyaan-pertanyaan saya terjawab. Setelah shalat maghrib, saya menonton sebuah video yang menggambarkan kejadian Tsunami yang menghantam sebuah bangunan, kemudian memperlihatkan air yang mencapai sebuah masjid berkubah hijau. Bangunan yang sangat familiar, dan ternyata benar kejadian itu adalah di sebuah Mall dekat pantai taman ria di Palu.  Satu demi satu foto dan video tentang gempa dan tsunami di Palu masuk dari berbagai grup whatsapp, kebanyakan mereka juga bernasib sama seperti saya yang sedang jauh dari keluarga. Mereka yang di luar Palu hanya bisa update informasi dari media sosial, TV dan berita-berita online. Malam itu belum ada sama sekali yang bisa menghubungi keluarga mereka. Gempa dan Tsunami itu melumpuhkan infrastuktur, listrik padam, sinyal HP putus. Palu yang terisolir. Sebuah malam yang tidak akan saya lupakan.

Pasca Gempa - Tsunami Palu (2)
Pasca Gempa - Tsunami Palu (3)
Pasca Gempa - Tsunami Palu (4)
Pasca Gempa - Tsunami Palu (5)

Esok harinya, alhamdulillah saya berhasil mengkontak Bapak, Ibu dan adik-kakak dan sepupu saya selamat. Semalam tidak bisa tidur karena belum dapat kejelasan nasib mereka. Hanya nongkrong didepan laptop dengan youtube streaming Metro TV yang terus menerus menayangkan breaking news.  Adik saya kemudian mengirimkan sebuah gambar bangunan yang sudah tidak ada lagi temboknya, bahkan rata dengan tanah. Dibelakang gambar itu terhampar lautan luas yang juga saya kenal. Setelah diteliti dengan seksama, gambar itu ternyata adalah sisa-sisa bekas rumah yang hancur dihantam tsunami. Subhanallah, saya langsung membayangkan bagaimana dahsyatnya Tsunami itu sampai rumah rumah tetangga hancur tak bersisa. Kemana pohon ketapang sebelah rumah? Kemana pohon jembolan dan pohon pisang yang biasa berdiri tepat disamping rumah? Banyak pertanyaan muncul, tapi saat itu hanya satu hal yang ada dikepala saya: Pulang. 

Kondisi masjid Iradatullah yang berada di depan rumah - Hampir roboh
Setelah mendapat izin untuk kembali ke rumah, (thanks to my boss, mas Romy dan teh Dian), kurang lebih dua minggu saya berada di kampung halaman yang kondisinya bukan lagi seperti yang dulu. Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Sis Al Jufry, perasaan itu muncul, bahwa Palu sudah berbeda 100 persen. Sambil membantu menurunkan logistik dari pesawat Hercules yang membawa saya dari Lanud Hasanuddin Makassar, tergambar lagi bagaimana jembatan kuning yang sudah rubuh terlihat menyedihkan dari atas langit. Bahwa bencana ini bukan hal yang kecil, betapa Allah menunjukkan kekuasaanya.
Kondisi Jembatan Kuning - Pasca Gempa & Tsunami Palu

Kondisi Bandara Sis Aljufry Palu (1)
Kondisi Bandara Sis Aljufry Palu (2)
Kondisi Bandara Sis Aljufry Palu, Pasca Gempa-Tsunami (3)
Hari-hari pertama di Palu saya habiskan bersama keluarga, membantu mengambil bantuan donasi yang sayangnya cukup ribet karena membutuhkan persyaratan administrasi seperti kartu keluarga. Tidak habis pikir bagaimana korban tsunami dapat membawa kartu keluarga kalau rumahnya saja tidak ada yang tersisa? Banyak hal yang membuat saya kecewa dari penanganan bencana ini, tentang lambannya pemerintah daerah, dan distribusi bantuan yang memang sulit karena banyak jalan yang putus. Allahuakbar. Ternyata bukan hanya gempa dan tsunami, ada juga likuefaksi, istilah yang baru saja saya ketahui setelah 3 sampai 4 daerah perumahan di Sigi dan Palu yang hilang ditelan ganasnya likuefaksi.

Kondisi jalan yang putus, Petobo

Proses distribusi bantuan ke daerah Bangga, Sigi (1)
Proses distribusi bantuan ke daerah Bangga, Sigi (2)
Melihat langsung dari dekat kondisi Perumnas Balaroa, Petobo, dan Sibalaya Selatan hati ini tidak henti-hentinya mengucap kebesaran Allah. Bagaimana dengan mudahnya dan dalam waktu sekejap satu perumahan habis dan tersisa hanya atap rumahnya. Bertindih-tindihan dengan manusia didalamnya. Masih banyak orang yang belum ditemukan. Cerita tentang likuefaksi ini akan saya coba tuliskan dilain kesempatan, karena hikmah yang luar biasa. Terlepas ini ujian atau azab, saya memandang bencana ini adalah teguran dan kasih sayang Allah untuk warga Palu, Sigi dan Donggala, untuk menjadi ujian yang bisa diambil pelajaran, dan semoga menjadi penggugur dosa. AAMIIN.

-----

This is a fresh new start. New beginning. Setelah kejadian ini saya berpikir dua kali untuk kerja dengan jarak yang jauh dari kotaku tercinta. Semoga #PaluBangkit bukan menjadi hashtag semata di sosial media, tapi benar-benar menjadi semangat untuk membangun kembali Palu yang baru. 

Foto kenangan - Pemandangan pantai dari belakang rumah.

 *p.s will share another story about lesson learned that I got. Soon, insha Allah.

Many thanks to all support for us, particularly: Arsa Jakarta (Bunda popo, kak Sintiana, Emak Tetha, Kapi, dan semuanya). Teman2 di Makassar: Ahmad, dan Dila. Dan semua donatur. Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga Allah mencatat dan membalas kebaikan berlipat-lipat.

Komentar

Postingan Populer